Sabtu, 07 Oktober 2006 - 10:43 wib
BERITALAIN
Seksologi: Ingin Operasi Kelamin
"Enam bulan terakhir saya mengalami gangguan ereksi (DE). Saya kasihan pada istri karena justru di usianya yang sekarang dia memerlukan layanan ..

Operasi "Tanpa" Gravitasi Bumi
Kali ini ruang pesawat di-"metamorfosa"-kan menjadi "kamar bedah". Di salah satu sudut pesawat, mereka mendirikan sebuah tenda plastik yang ..

Tinggal di Apartemen
"Saya tidak cocok tinggal di apartemen. Saya lebih menyukai rumah yang langsung bersentuhan dengan tanah. Saya merasakan keasyikan luar biasa ...






Fitbone, Terobosan Baru Bedah Ortopedik Rekonstruktif



Dalam banyak peristiwa, korban kecelakaan yang parah terpaksa kehilangan anggota badannya karena diamputasi lantaran ada sebagian kecil dari tulang yang hancur. Karena itu, suatu kecelakaan dapat mengakibatkan pemendekan dan perubahan bentuk lengan maupun kaki pascatraumatik pada korban.

Pemendekan dan perubahan bentuk anggota badan juga banyak dialami anak-anak yang baru dilahirkan dan menderita polio, orang cebol dan tampak pendek saat berdiri, patologi pinggul dan lutut, kaki bengkok keluar karena riketsia.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang bedah rekonstruksi ortopedi memberi harapan baru bagi mereka. "Dengan teknologi Fitbone, anggota badan yang hancur bisa diperbaiki dan dipanjangkan tanpa ada parutan dan tidak melalui proses sangat menyakitkan," kata Dr Thirukumaran Subramaniam, konsultan ahli bedah ortopedi dari Mahkota Medical Centre Malaysia.

Selama ini kalangan kedokteran biasa menerapkan osteogenesis peregangan, yakni proses pembedahan untuk memperbaiki dan memanjangkan tulang. Dalam proses ini, tulang dipatahkan lewat pembedahan, kedua ujung tulang dipisah agar tumbuh tulang baru pada ruang yang ada. Pemanjangan hingga 7 sentimeter disarankan bagi setiap tulang. Kendati pernah ada pemanjangan tulang hingga 12 sentimeter, biasanya ini tidak dianjurkan karena mengakibatkan tekanan kuat pada badan. Kadar pertumbuhan tulang tergantung kepada sejumlah faktor antara lain, umur, disiplin, dan gaya hidup.

Menurut ensiklopedia Wikipedia, metode ini dikembangkan pada tahun 1951 oleh Gavriel Ilizarov, seorang ahli ortopedik Rusia. Prosesnya adalah tulang-tulang dan saluran-saluran yang hancur dibuang dan meninggalkan ruang.

Bagian tulang atas dipatahkan jadi dua bagian dengan gergaji luar. Kaki kemudian dipasang dengan rangka Ilizarov yang menembus kulit, otot, dan tulang. Skru yang dipasangkan pada tulang tengah diputar satu milimeter setiap hari agar tisu tulang yang baru tumbuh dapat diregangkan sehingga secara berangsur-angsur mengurangi ruang.

Pemanjangan satu milimeter per hari ini dinilai paling optimal yang bisa dilakukan. Jika terlalu lambat, jaringan lunak akan jadi keras sebelum siap mengalami proses pemanjangan. "Kalau pemanjangan terlalu cepat, akan meregangkan jaringan lunak sehingga akan berakibat terlalu menyakitkan. Jarak antara tulang yang terlalu besar tidak akan pernah dapat terisi penuh," kata Dr Thiru.

Setelah lubang ditutup, pasien akan meneruskan pemakaian rangka sehingga tulang baru menjadi keras. Biasanya pasien harus dirawat hingga 120 hari sebelum kaki boleh digunakan lagi. "Teknik Ilizarov ini rentan terhadap infeksi. Prosedurnya juga cukup menyakitkan, pasien akan merasa geli, tidak nyaman, dan menimbulkan parut bedah yang tidak nyaman dipandang," tuturnya.

Kemudian, muncul teknologi distraktor kinetik tulang intramedular (ISKD). Metode ini memungkinkan pemanjangan secara internal sehingga mengurangi risiko infeksi dan parut bedah. Dengan teknik ini, sebatang pin bisa dipanjangkan berangsur-angsur lewat putaran lutut atau mata kaki, lalu diimplankan ke dalam tulang.

ISKD memerlukan pergerakan kaki untuk mengaktifkan peralatan yang membuatnya cukup menyakitkan, terutama setelah ada tindakan pembedahan. Risikonya, pasien kemungkinan terlalu memanjangkan tulang tanpa sengaja yang bisa berakibat pembentukan tulang yang salah. "Jadi, teknologi ini bisa mencegah pembentukan tulang yang benar," kata Thru menambahkan.

Fitbone atau metode pemanjangan anggota badan internal telah menyempurnakan beberapa kelemahan metode ISKD. Semula, teknologi ini dikembangkan di Jerman oleh Augustin Betz dan Rainer Baumgart. Pembedahan dengan metode ini dilakukan pertama kali pada tahun 1996, dan tekniknya dipatenkan pada tahun 1997. Sampai kini, pembedahan dengan teknik ini kebanyakan dilakukan di Munchen, Jerman, oleh Baumgart dan Peter Thaller.

Namun, sejak tahun 2001 cara pembedahan ini juga dilaksanakan di Rumah Sakit Tan Tock Seng, Singapura, oleh Dr Sarbjit Singh dan di Rumah Sakit Bumrungrad, Bangkok, Thailand, oleh Dr Sittiporn. Di Malaysia, pembedahan Fitbone dilaksanakan untuk pertama kalinya pada Desember 2005 di Mahkota Medical Center, Malaka oleh Thirukumaran Subramaniam dan Jeyaratnam T Satkunasingam.

Secara elektronik

Fitbone merupakan peralatan pemanjangan anggota badan yang dapat dipasang di dalam tubuh dan digerakkan secara elektronik. Metode ini memungkinkan tulang-tulang yang hancur disatukan dan diperpanjang, tulang-tulang yang melengkung pun dapat diluruskan. Peralatannya terdiri dari sebuah antena yang ditanamkan di bawah kulit, implan kuku baja teleskopik dan transmiter frekuensi radio genggam.

Pemanjangan bagian kaki bawah dilakukan dengan insisi sepanjang 2 sentimeter pada lutut pasien, dan bingkai (rimmer) digunakan agar ada cukup ruang pada tulang untuk implan. Tulang lalu dipatahkan sekitar 14 sentimeter di bawah lutut dengan gergaji. Paku keluli tahan karat diregangkan dengan dua skru. Bagian atas paku itu dipasang pada penerima radio di bawah kulit.

Proses pemanjangan dikendalikan dengan menekan tombol pada transmiter yang ditempatkan di dekat antena sehingga motor terpasang akan memanjangkan implan kuku baja teleskopik sebanyak satu milimeter per hari. Apabila kaki mencapai panjang yang dikehendaki, pemanjangan akan dihentikan dan tulang dibiarkan agar mengeras.

Peralatan pemanjang anggota badan itu dapat dikeluarkan sekitar dua tahun setelah pembedahan. Sayangnya, proses pembedahan tanpa parut ini sangat mahal harganya. Jika harga peranti Ilizarov 4.000 dollar AS dan implan ISKD sekitar 8.500 dollar AS, harga peranti Fitbone mencapai 12.000 dollar AS, belum termasuk biaya pembedahan.

Seusai pembedahan, penderita harus menjalani fisioterapi yang terdiri dari senam perengangan dan menggunakan peranti khusus. Tujuannya untuk menghindari kejang dan merangsang otot, saraf, serta pembuluh darah agar tumbuh bersama dengan tulang. Pasien sering diberikan analgesia untuk menahan sakit dan bisa beristirahat sewaktu menjalani pemulihan.

Sejauh ini, metode Fitbone belum banyak dikenal dan dipakai di Tanah Air. "Sebenarnya metode Fitbone ini lebih mudah dan praktis dibandingkan dengan teknik bedah ortopedi lainnya. Tetapi, teknik pembedahan ini membutuhkan biaya sangat mahal sehingga tidak terjangkau masyarakat luas," kata Spesialis Bedah Ortopedi Dr Mulyono Soedirman SpB SpBO FICS, Senin (4/9) di Jakarta.

Selain harganya sangat mahal, lanjut Mulyono, pembedahan dengan teknik Fitbone ini hanya bisa diterapkan pada bagian tulang kecil seperti tulang kering dan sulit dilaksanakan untuk memanjangkan bagian tulang besar seperti tulang paha. "Fitbone bisa jadi alternatif tindakan pemanjangan anggota badan di Indonesia di masa depan. Sebab, nantinya harga peralatannya kemungkinan akan turun sehingga bisa terjangkau pasien," tuturnya.

Namun, pembedahan ortopedi, termasuk teknik Fitbone, tidak dianjurkan bagi orang yang ingin memanjangkan tulangnya beberapa sentimeter demi memperindah penampilan (pembedahan kosmetik). Sebab, pembedahan dilakukan dengan mematahkan tulang, pasien harus menggunakan kursi roda selama setahun, mengalami rasa sakit, dan harganya sangat mahal. ***


Penulis: Evy Rachmawati